Antara Aku dan Atasanku

Aku menjalani tugas di bawah kepeminpinan Kepala Sekolah yang sekarang ini sudah hampir 8 tahun. Selama itu pula aku sebenarnya mengalami banyak hal yang terkadang bukannya menambah semangat kerjaku sebagai seorang guru, bahkan kalau aku renungkan kembali apa apa yang sudah aku kerjakan, malah semakin tidak termotivasi dan semakin males untuk berkreasi. Memang kalau ditimbang-timbang lagi dari sekian hal yang sudah juga aku lakukan ada beberapa saja yang membuat semangat, kalau dihitung dengan prosentase sepertinya 5 persen lawan 95 persen. Maksudnya hanya 5% hal yang membuat aku bertahan untuk bekerja lebih baik, dan sisanya yang 95% merupakan pekerjaan yang memang harus aku lakukan tapi dengan rasa terpaksa.

potoSesungguhnyalah, jujur aku akui, aku merasa sangat berdosa kepada Bangsa dan Negaraku ini. Aku bekerja sebagai seorang PNS, digaji dan dinafkahi dari pajak yang dibayar oleh rakyat Indonesia yang dipungut oleh pemerintah kemudian digunakan untuk kami yang bekerja sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. Dulu,… awal-awal aku menjadi Guru PNS dan diangkat dan bekerja di Lombok Timur, dengan ujian dan tantangan yang begitu dahsyatnya, aku tidak pernah merasakan kendor dalam bekerja, kalau boleh aku tulis,… waktu itu gaji yang aku dapatkan jauh lebih kecil dibandingkan dengan yang sekarang… bahkan mungkin 25 kali lipat lebih kecil. Walaupun demikian, aku tak pernah menyesal dan tak pernah surut semangat dalam bekerja. Disamping itu, ketika aku masih di sebrang pulau tersebut, aku merupakan salah satu warga minor yang sering juga mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan dari lingkungan sekitar, tapi di sisi yang lain aku tetap merasa nyaman dan semangat karena kolega-kolega dan juga atasan (Kepala Sekolah) sangat mengapresiasi semua pekerjaanku, dan tidak sedikit juga masyarakat di lingkungan di mana aku bertempattinggal mau juga menghoramati aku sebagaimana layaknya mereka menghoramati saudara-saudaranya.

Pada awal aku menenuaikan tugasku di tanah kelahiranku sendiri, di tempat dimana aku sekarang melaksanakan tugas, aku sebenarnya masih semangat dan sangat antusias melakukan segala kewajibanku sebagai seorang guru. Pada saat itu, atasanku adalah orang yang sangat bijaksana, orang yang mau menghargai bawahan, dan orang yang sangat bersahaja. Dia adalah tipe seorang pemimpin yang patut dikagumi. Beliau itu adalah Pak Made Sukarya, yang sekarang sudah memasuki masa pensiun sejak Januari tahun 2011 ini. Ketika aku masih dibawah kepeminpinan beliau, sisa-sisa semangat untuk bekerja yang aku bawa dari Lombok tersebut masih melekat, karena aku masih sering dihormati juga oleh Pimpinan, beliau tidak pernah mengenyek hasil pekerjaanku, beliau tidak pernah memarahiku ataupun guru yang lain, jadi bukan hanya aku yang dipercaya oleh beliau, teman-teman yang lainpun sama seperti yang aku alami, mereka juga tidak pernah merasa malas dan loyo untuk melaksanakan tugasnya masing-masing.

Semenjak kepeminpinan beliau yang sekarang inilah, aku mulai merasakan bahwa kinerjaku semakin menurun. Entah apa penyebabnya, jujur setelah aku tanya teman-teman senior yang juga sudah langlang buana melaksanakan tugas di daerah orang merasakan hal yang sama dengan aku, bahkan mereka sering cerita kepada aku, kok sekarang perasaan kita bukan lagi sebagai abdi masyarakat, bangsa dan negara, perasaan sekarang kita hanya mengabdi kepada kepentingan kita masing-masing. Terkadang aku juga heran, mengapa pimpinan sekarang ini dengan kamuflase semangat menggebu-gebu ingin memajukan instansi yang dipimpinnya, bicara ke sana sini di hadapan masyarakat (orangtua/wali murid/komite) bagaimana hebatnya dia memimpin perusahaan ini, dengan manajemen luar biasa yang katanya dilandasi akuntabilitas tinggi dan tranparansi. Sekali lagi aku sebenarnya sangat meragukan apa yang sudah beliau itu lakukan, aku juga sebenarnya meragukan apa yang sudah dia jual ke masyarakat itu. Kenapa? Ya, coba saja lihat dan perhatikan perilaku dan sikap para guru dan pegawai di Sekolah ini. Mereka termasuk aku, terlihat sangat apatis dan skeptis dalam melaksanakan tugasnya, dan aku tidak menyalahkan siapa-siapa, dan aku juga tidak menjelek-jelekkan siapapun di sini, baik guru, pegawai ataupun atasanku sendiri.

Menurut yang aku rasakan, mungkin juga temen-temen guru rasakan, ada sesuatu yang salah dalam pengelolaan instansi ini, atapun kalau tidak boleh dikatakan ‘salah’, pasti ada sesuatu yang kurang  dalam memanage Sekolah ini. Kalau tidak ada, mengapa ini bisa terjadi, kurangnya semangat, menurunnya motivasi kerja, bahkan kami para guru juga merasakan terjadinya destorsi mental dalam melakukan tugas kami. Dan bahkan yang terkadang aku sendiri merasakan sangat heran, mengapa di antara kami terkadang tumbuh rasa saling curiga, saling tidak percaya antara satu guru dengan guru yang lain…. bahkan sering juga terjadi perang dingin antara satu oknum dengan oknum guru dan pegawai yang lain. Ini fakta, karena aku sendiri sering mengalami, bahkan akhir-akhir ini aku sepertinya saling menyalahkan antara aku dengan salah satu sahabatku… Walaupun demikian, dalam usiaku yang sudah menuju ke usia dewasa (belum tua)… aku berusaha menenangkan diri, dan mencoba untuk tidak membenci atau menyalahkan siapapun, termasuk juga sahabatku yang satu ini (tidak saya katakan namanya, sebab kalau para pembaca melihat tulisan saya terdahulu, pasti tahu siapa orangnya).

Dalam situasi yang begini inilah, aku katakan sekali lagi bahwa aku meragukan kemampuan kepeminpinan Kepala Sekolah yang sekarang ini. “Ragu”… bukan menyalahkan atau menjelekkan…. semestinya, kalau peminpin yang besar, yang hebat…. mampu mengayomi bawahan, baik secara fisik maupun mental. Seorang peminpin yang besar dan hebat semestinya mampu memotivasi bawahan untuk selalu bekerja dengan baik dan bertanggung jawab, sehingga bisa menghasilkan outcome (kalau pendidikan “siswa yang berprestasi lebih”, walaupun itu bukan satu-satunya penentu), kalau model peminpin seperti ini, sekali lagi aku katakan aku ragu. Boro-boro mau semangat, mau tulus mengabdi kepada kepentingan siswa, malah menjadi bahan cibiran, dan hebatnya kalau ada sesuatu yang terkesan atau menggambarkan sebuah keberhasilan,… sontak kami saling ‘claim’ atas keberhasilan tersebut, dan sebaliknya kalau ada sesuatu yang terkesan ada suatu kegagalan, malah pada lari semua dari tanggung jawab.

Dan banyak lagi yang mau aku ceritakan tentang aku dan atasanku, tapi sayang, untuk sekarang ini mungkin hanya itu dulu, walaupun terkadang aku merasa diperlakukan kurang adil oleh atasanku, aku berusaha tegar dan tidak peduli, yang penting aku bekarja demi masa depan siswa-siswi sekolah kami, aku tidak takut kepada atasanku (beliau manusia biasa seperti juga aku yang juga memiliki atasan), yang paling aku takutkan adalah siswa-siswiku, takut kalau mereka tidak mendapat layanan terbaikku, takut mereka tidak membawa apa-apa setelah mereka menamatkan pendidikannya di sekolah ini, dan ini aku anggap bencana besar dalam kehidupan profesiku sebagai seorang guru. Dan semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa selalu menyertai kami dalam melaksanakan tugas kami, sehingga kami bisa memberikan yang terbaik bagi generasi bangsa ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s