Insan Biasa

Sengaja aku membuat judul tullsan ini seperti itu, karena pada kenyataannya aku memang insan biasa sebagaimana halnya juga orang lain. Suatu ketika aku bisa sedih, senang, marah, benci dan dengki… aku juga merasakan lapar, haus dan seterusnya. Dilain hal, aku juga bisa heran, bangga, ragu, yakin… semuanya.. bahkan pada suatu waktu beberapa hal tersebut bercampur aduk menjadi satu…

Back to Nature2Ambillah suatu contoh, ini bukan keluhan,tapi ungkapan rasa yang lain…. kejadian tadi pagi di tempat tugas (Sekolah)… aku sempat bengong memikirkan apa yang sudah aku lakukan beberapa hari yg sudah lewat. Bendahara SSN datang kepadaku dan bertanya “Pak Man, kenapa Pak Gede Arsa haknya dikurangi hanya karena ia tidak hadir 1 hari dalam pelatihan yang lalu?”. Mendengar hal tersebut aku terus terang bingung bercampur heran, mengapa beliau bertanya seperti itu, dan mengapa harus kepada Nyoman Giri…?”, semestinya beliau itu langsung bertanya pada saya, bahkan seharusnya beliau tidak perlu bertanya kepada bawahan karena beliaulah sang Ketua. Aku semakin bertambah heran ketika beberapa teman menanyakan segala sesuatu terkait dengan kepanitiaan pelatihan program SSN kepada aku… mereka salah alamat. Semua pertanyaan teman temanku itu semestinya dilayangkan kepada Pak Gede Arsa terhormat. Benci pada dirisendiri seketika menyeruak dalam benakku, benci kepada kesombonganku sendiri, aku merasa sombong karena dalam beberapa hari yang lalu aku melakukan pekerjaan melebihi kapasitasku sebagai seorang sekretaris.Walaupun semua pekerjaan itu berhasil aku selesaikan dengan baik dan tepat waktu. Untuk menghapus rasa benci tersebut akhirnya aku memaparkan segala hal apa adanya kepada teman-teman, kembali aku tekankan… semestinya keterangan itu keluar dari penjelasan Sang Ketua… dan akhirnya mereka semua memahami kenyataan yang ada…. namun sayang walaupun mereka mau memaklumi situasi yang aku alami dan menerima penjelasanku, aku sendiri merasa tetap benci pada keangkuhan dan kesombonganku.

Akhirnya masih ditengah-tengah kesibukanku membereskan komputer teman yang dimakan oleh virus, aku pergi menemui Pak Gede Arsa, dan menjelaskan duduk perkaranya mengapa hak beliau dikurangi… aku katakan kepada beliau… Pak De, bukankah apa yang saya buat itu tidak lahir 100% dari pertimbangan saya yang hanya berkedudukan sebagai sekretaris… daftar penerimaan honor tersebut kami buat kemarin pada hari Jum’at, dan seharusnya itu kita kerjakan berdasarkan musyawarah panitia inti yaitu. Penanggungjawab (Kepsek), Koordinator (Wakasek), Ketua SSN, Sekretaris SSN dan Bendahara. Ini seharusnya beliau aturannya sudah tahu… kemudian aku lanjutkan penjelasanku kepada beliau… bukankah pak de kemarin tidak masuk, terus pak wakasek juga tidak ada (beliau memang tidak pernah kami libatkan secara langsung karena beliau sakit), akhirnya pekerjaan itu kami bertiga yang menyelesaikannya…. aku (sekretaris), Nyoman Giri (Bendahara) dan Penanggungjawab (Kepsek), … setelah melalui pertimbangan-pertimbangan segala macam… akhirnya daftar tersebut disetujui oleh Kepala Sekolah sebagai Penanggungjawab, yaah gimana gak setuju karena 80% itu adalah usulan beliau sendiri. Kembali kepada inti masalah, aku jelaskan kenapa honor Pak Gede Arsa dikurangi… karena beliau pernah tidak hadir dalam pelaksanaan Pelatihan tersebut (baca tulisan saya terdahulu yg berjudul ‘Dilema’).

Mendengar apa yang sudah aku jelaskan kepada beliau akhirnya berkata bahwa beliau mau memahami kenyataan tersebut. Tapi sayang, aku sendiri tidak begitu yakin dengan apa yang beliau katakan tersebut, terlintas dalam wajah beliau wajah kekecewaan atas apa syang sudah beliau alami…sepertinya beliau masih meredam rasa ketidak puasan, bahkan mungkin kekecewaan, cuma aku tidak tahu beliau kecewa kepada siapa. Seandainya beliau kecewa dengan aku… dan seandainya beliau mau membaca tulisan ini, maka aku katakan kepada beliau… “Marilah kita jujur pada diri sendiri dulu, sebelum kita menuntut kejujuran orang lain”… mari kita bertanya pada diri sendiri, sudah berapa banyak kita berbuat, baru kita bertanya pada orang apa dan berapa banyak yang sudah anda berbuat?”. Lagi, kalau saja beliau suatu saat membaca tulisan ini, maka aku katakan, bukankah pada saat pelaksanaan-pelaksanaan pelatihan terdahulu, segala sesuatu yang menjadi tugas beliau sebagian yang melakukannya adalah aku? (makanya aku tulis dalam blog terdahulu “aku mengerjakan tugas yang semestinya bukan menjadi tanggungjawabku”). Bahkan yang paling membuat aku terpukul ketika pada suatu hari penguburan salah satu keluargaku yang meninggal terpaksa absen karena harus menyelesaikan tugasku dan tugas Ketua SSN yang pada hari itu tidak masuk dengan alasan ada Upacara Yadnya di Sanggah beliau. Dan pada kejadian-kejadian sebelumnya bahkan beliau banyak menyerahkan tugasnya sendiri kapada aku, dan aku terima karena ada perasaan kerjasama yang baik dan ingin kompak dalam bekerja, sehigga program-program SSN Sekolah kami bisa sukses.

Nah, itulah yang membuat saya menjadi semakin merasa bersalah pada diri sendiri dan bingung menghadapi teman seperti ini. Pada saat ada pekerjaan yang harus diselesaikan dan dikerjakan oleh dia sendiri, dia menyerahkan pada aku, sehingga beban dia berkurang dan bebanku bertambah…. pada saat ada rejeki terkait dengan pekerjaan yang harus diselesaikannya… terus berkurang karena alasan tertentu… eee malah gak terima, dan terkesan menyalahkanku…. bagaimana ini?… Tapi sekarang ini aku sadar, aku tidak mau dan tidak akan mau menyalahkan diriku sendiri, apapun tanggapan orang apakah itu guru, pegawai atau siapapun…. yang pennting aku bekerja dan bekerja terus berdasarkan tutur orang orang tua… tutur dalam ajaran Agama Hindu yang aku yakini…aku akan selalu bekerja dengan ketulus ikhlasan dan kejujuran, tranparansi…demi kebaikan kita semua, demi kebaikan SMP Negeri 4 Pupuan tempatku mencari nafkah dan demi kebaikan pendidikan siswa-siswi kami semua. Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa selalu menyertai setiap langkahku dalam melaksanakan tugasku sebagai guru, semoga Beliau selalu membimbingku sehingga kesalahan-kesalahan yang mungkin aku perbuat bisa aku kurangi. Semoga!

Dan tulisan ini tidak bermaksud menjelek-jelekkan siapapun… aku menulis segala sesuatu seperti apa adanya dan seperti kenyataan yang aku alami… kalaupun ada yang merasa tersinggung dengan tulisan ini, silahkan hubungi saya atau silahkan komentari tulisan ini secara langsung. Saya akan menerima semua kritik dan saran dari para pembaca!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s