Dilema

With My PC1Hari itu Jum’at 18 Februari 2011 pagi, aku seperti biasa mempersiapkan diri untuk berangkat ke tempat tugas. Sebenarnyalah hari itu aku merasa kurang sreg untuk berangkat, kenapa? yaah karena nenek (walaupun bukan ibu dari ayah atau ibu) saya meninggal sehari setelahnya, tepatnya hari Kamis 17 Februari 2011 dan dikuburkan pada hari Jum’at itu. Bahkan dalam hati aku sudah memutuskan untuk tidak berangkat ke sekolah, tapi karena tuntutan tugaslah yang menyebabkan secara berat hati aku harus berangkat. Sebelum aku menghidupkan mesin kendaraan, terpintas dalam benakku, bagaimana kalau saudara-saudaraku menganggap aku tidak memikirkan segala sesuatu terkait dengan upacara penguburan nenek. Mungkin juga sanak dan keluargaku berfikir bahwa aku lebih mementingkan kepentingan dirisendiri daripada kepentingan keluarga. Semua fikiran itu berkecamuk, tapi aku tetap memutuskan untuk berangkat kerja. Begitu aku sampai di sekolah, bersamaan dengan atasanku, aku memarkirkan kendaraan, lantas aku menghampiri beliau untuk mengatakan keadaan di rumah, sekaligus minta izin untuk pulang mendahului teman-teman, dan beliaupun mengizinkan aku. Terus kenapa aku menganggap situasi ini sebagai sebuah dilema?.

Aku ditunjuk oleh Kepala sekolah sebagai Sekretaris SSN beberapa bulan yang lalu, kemudian Pak Gede Arsa sebagai Ketuanya. Kebetulan pada hari itu adalah hari pertama acara Pelatihan dalam rangka pelaksanaan program SSN dilaksanakan. Secara otomatis, aku sebagai sekretaris harus bertanggung jawab mengenai kelancaran dari acara tersebut. Kalau dikaji lebih jauh lagi, aku sih sebenarnya bukan orang yang paling bertanggungjawab, mungkin yang dituntut tanggungjawab yang lebih besar dari teman-teman yg bukan Sekretaris… bahkan yang lebih besar tanggungjawabnya semestinya adalah Ketua SSN di bawah Kepala Sekolah sebagai Penanggungjawab tertinggi. Terus yang membuat hati saya merasa sedih, bahwa sehari sebellum acara itu diadakan, aku sih sebenarnya sudah bilang sama Ketua SSN bahwa pada hari Jum’at itu aku ndak bisa datang karena ada acara penguburan, tapi malah beliau (Ketua) mendahului menyampaikan izin ke Kepala Sekolah bahwa dia tidak bisa datang pada hari Jum’at tersebut karena ada Upacara di Sanggah Kemulannya. Nah, situasi inilah yang membuat aku semakin bingung, bahkan semakin bingung manakala acara Pelatihan sudah dimulai. Bingung antara aku harus pulang karena ada upacara penguburan atau harus tetap di tempat pelatihan untuk menjalankan tugas sebagai panitia yang membantu segala sesuatu yang terkait dengan kelancaran kerja Narasumber. Hari semakin siang, fikiran semakin bingung dan puncaknya ketika acara istirahat siang tiba, ternyata dari sekitar 20 peserta yang hadir, ada kurang lebih 4 peserta yang akhirnya harus pulang karena alasan-alasan tertentu. Setelah aku hitung-hitung, dari 30 peserta yang kami undang untuk menjadi peserta pelatihan, pada siang itu, dalam acara berikutnya mungkin yang masih bertahan dalam pelatihan hanya 15 orang.

With My PC2Melihat situasi seperti itu, akhirnya dengan berat hati aku harus memutuskan untuk tetap bertahan di tempat pelathan karena merasa malu kepada Bapak-bapak Narasumber yang kami undang dari Undiksha Singaraja. Keputusan itu saya ambil, dengan spekulasi perasaan yang sangat tinggi. Spekulasinya adalah bahwa saya harus mengorbankan nama saya di lingkungan keluarga, karena tidak ikut dalam acara penguburan, atau kalau saya memutuskan pulang untuk acara penguburan spekulasinya nama baik saya juga hancur di mata Bapak-bapak narasumber karena saya sebagai pengganti dari Ketua SSN yang harus bertanggungjawab pada acara pelatihan, disamping itu, karena sayalah yang mengundang langsung beliau-beliau tersebut. Akhirnya denga perasaan yang sangat sedih dan bimbang, aku mengambil spekulasi pertama. Semoga apa yang sudah saya putuskan pada hari itu tidak menjadi dosa yang besar kepada keluarga dan masyarakan saya sendiri, dan semoga mereka apakah itu keluarga, handai tolan dan masyarakat bisa memaklumi keadaan saya pada hari itu.

2 thoughts on “Dilema

  1. salah satu harus diambil keputusannya ,.. yaitu tetap di tempat saminar,.. itu merupakan sebuah tanggung jawab yang sangat tinggi,.. itu menunjukkan jiwa besar bapak yang mengemban tugas,.. yaitu mengutamakan kepentingan tugas ,. meskipun ada yang upacara yang sangat penting. tetap laksanakan tugas ,.. jangan spt yg lain meninggalkan tugas sebelum selesai . keluarga pasti mengerti. Astungkara……..

    • Sebelumnya tyang ucapkan banyak terimakasih atas komentar Pak Made terhormat, memang betul akhirnya tyang mengambil keputusan untuk tetap berada di tempat pelatihan sampai pelatihan selesai, karena itu adalah tanggungjawab moral tyang terhadap Bangsa dan Negara, walaupun terasa berat. Masalah upacara di rumah memang sudah tyang serahkan pada istri, dan memang betul seperti yang Pak Made katakan bahwa keluarga besar tyang sudah memahami tanggungjawab tyang sebagai seorang PNS, tyang memang harus mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan keluarga. Sekalilagi terimakasih banyak komentarnya Pak, ternyata Pak Made mendengar keluhan tyang dan memahaminya sepenuh hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s