Pelajaran Hidup

Menjalani dua profesi yang orientasinya sedikit berlawanan dalam kehidupan ini memang membutuhkan ketegaran hati dan ketulus ikhlasan yang lebih dibandingkan dengan satu saja. Seperti saya, satu sisi harus menjalani profesi PNS (Guru) yang kata orang “Menjalankan Dharma Negara”, disisi yang lain saya harus mampu melayani kepentingan Umat “Dharma Agama”. Yang sedikit berlawanan dalam hal ini adalah orientasi “Pamerih”nya. Memang keduanya terkadang juga bisa ketemu… tidak selamanya juga berjauhan. Bahkan terkadang satu dan lainnya juga bisa saling mempengaruhi, terutama dalam hal pamerih materi, dan juga implikasinya dalam realitas kehidupan saya.

aku

Begitu banyak hal yang menyenangkan dan menyedihkan saya alamami selama dua profesi ini saya lakoni, bahkan ada juga hal yang terkadang mebuat hati ini tercobak-cabik manakala ada pihak-pihak yang membenturkan dua profesi saya ini. Yang lebih menyakitkan hati pihak yang memanfaatkan keduanya untuk dibenturkan itu adalah kolega sendiri dalam linkungan instansi dimana saya menjalankan Dharma Negara. Dengan segala kewenangannya dia men”judge” saya tidak bisa efektif menjalankan tugas karena harus menjalankan “Darma Agama”. Sebagai hukumannya “Jam Mengajar” saya harus tikurangi sebanyak 12 Jampel.

14

Kenapa ini saya katakan sebagai sebuah hukuman? Karena kita tahu semua bahwa jam wajib bagi seorang guru yang sudah disertifikasi adalah 24 jampel, jadi otomatis dengan penghilangan 12 jampel wajib saya, mungkin bagi dia akan menghilangkan hak saya untuk mendapatkan Tunjangan Profesioanl. Tega sekali dia yang memegang kewenangan itu, atau dia tidak mengerti dengan apa yang sudah dia putuskan itu, atau mungkin juga sengaja…”Allahualam” hanya Tuhan dan dia sendiri yang tahu. Tapi yang jelas saya merasa seperti anak kecil yang dihukum oleh orangtua karena kesalahan yang tak pernah saya tahu.

“Seperti Anak Kecil”… itulah perasaan saya sekarang. Tapi sesungguhnya saya meragukan “Sifat Keorang Tuaan” yang dia miliki. Dalam dunia nyata…, saya punya 2 anak remaja,…. kalau mereka melakukan sesuatu yang kita anggap salah… yaa saya tegur dulu… kemudian diberi nasehat… dan diberikan solusi. Begitu juga dalam keseharian saya jadi seorang guru, kalau saya melihat siswa saya melakukan sesuatu yang kita anggap keliru, ya dipanggil dulu, dinasehati…. dan seterusnya…. itulah esensi pendidikan.

Yang membingungkan saya ketika dia mevonis saya itu adalah kata-katanya “Karena Pak Jero sangat sibuk urusan ke-atas, saya paling tidak berani dengan urusan ke atas, jadi terpaksa jamnya Pak Jero saya kurangi menjadi 12 jam”. itulah seingat saya yang dia ucapkan. Kenapa saya katakan membingungkan? Bukankankah dengan mengurangi jam wajib saya berdampak pada Tunjangan saya, dan bukankah itu juga urusannya dengan nasib seseorang????? Otomatis juga urusan “ke atas” juga. Dan yang menyakitkan adalah… dia memvonis… tanpa ada signal terlebih dahulu kemudian tidak ada solusi, itulah yang menyebabkan mengapa saya katakan tadi seperti anak kecil yang dihukum tanoa tahu apa yang sudah dilakukan tanpa dicegah dan tanpa diberikan jalan keluar… sungguh tragis memang nasib saya…. hahaha.

Tapi walaupun demikian, saya sadar bahwa apapun yang saya alami selama ini termasuk juga yang terakhir ini, saya anggap adalah “Sebuah Pelajaran Hidup” yang memang harus digali terus untuk mencapai suatu kesempurnaan, walaupun hal itu tidak mungkin. Tulisan ini saya buat tidak dengan maksud menyalahkan siapa siapa termasuk diri sendiri… tapi hanyalah sebuah renungan untuk diri saya sendiri dalam menjalani kehidupan ini, dan saya tetap bertekat untuk mencintai semua orang termasuk yang tidak mencintai saya, sebab dengan demikian, semuanya akan menjadi baik-baik saja.

Advertisements

GALUNGAN

Hehe… tulisan ini hanya sekedar untuk mengingatkan diri saya sendiri, bahwa hari ini Selasa, Wage Dunggulan, 26 Maret 2013 bertepatan dengan Purnama Ke_Dasa, dan hari ini juga adalah Hari Suci Penampahan Galungan dan sekaligus juga adalah Pujawali di Pura Batur Galiukir.

akulahyaouuuk

Maaf gambarnya nyaplir!

Hari ini memang hari yang sangat baik bagi umat Hindu untuk melakukan introspeksi personal ke_dalam, baik untuk memahami betapa agungnya kuasa Ida Sang Hyang Widhi pada alam semesta beserta isinya ini. Manusia beserta tetekbengeknya ini, tidaklah seberapa artinya dalam kekuasaanNya, marilah kita semua tunduk dan sujud kepadaNya, mohon ampun atas semua dosa yang telah kita lakukan sengaja ataupun tidak. Dan yakinlah bahwa ISWW juga maha pemurah, marilah berserah kepadaNya, dan mohon anugrah Beliau agar Alam Semesta beserta isinya ini senantiasa aman, damai dan sejahtra selalu.

Dan esok hari merupakan Hari Suci Galungan, semoga kita semua dalam hari suci ini mampu mengatasi segala kekurangan dan emosi yang selalu menggrogoti jiwa kita, sehingga apa yang kita harapkan di hari Galungan ini, yaitu menangnya insan-insan dunia dalam melawan ketidakbenaran, semoga ISWW selalu menyertai dan melindungi kita semua seisi alam semesta raya ini. Semoga.

F i t n a h

Kata orang bahwa “Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan”. Saya sendiri bingung juga dengan istilah itu, tapi setuju juga … masalahnya, beberapa bulan yang lalu saya sekeluarga mendapat serangan teror fitnah dari keluarga sendiri juga, waduh… capek juga mikirnya. Sebenarnya sih sesuai dengan logika intelektual yang saya miliki, tak mau terpengaruh oleh ocehan para “teroris bloon” tersebut, Bagaimana ya?, mereka yang ngoceh dan memfitnah keluarga saya itu hanyalah orang-orang berpendidikan di bawah standar,.. ada yang lulus terpaksa “gurunya gak tega”, ada yang gak lulus SD, dan ada yang pura-pura lulus kuliah… wkwkkwkwk…, aneh bin ajaib…, mereka semua ngoceh tentang saya dan keluarga.

Mungkin teman-teman pembaca Blog ini yang terhormat ingin tahu, isi ocehan para terorist itu. Ini kata mereka.. “ Ow Pak Yoga dan Men Yoga (Saya dan Istri) itu belajar Santet, dan mereka nyantet anak dan saudara saya sehingga dia sakit keras dan opname di RS’…” Itu salah satu ocehan teror yang mereka lontarkan ke masyarakat.

acus

Apakah anda percaya kalau saya melaksanakan sesuatu yang mencelakakan orang, kalau apa yang saya lakukan seperti yang terlihat dalam gambar di atas ini?

Awalnya sih, saya terprovokasi juga oleh teror mereka,… tapi setelah rembuk dengan keluarga besar saya…, memang saya tidak mesti menanggapi ocehan itu, dan saya harus tetap cerdas berfikir, dan harus percaya juga bahwa masyarakat Galiukir sekarang juga pasti cerdas tentang hal-hal yang berbau provokasi seperti itu.

Photo0164

Kadang-kadang seharian saya harus cari informasi di dunia seperti ini untuk menemukan informasi tentang kebenaran Dharma.

acus4

Dan yang paling pokok, saya harus melaksanakan tugas Dinas saya, karena di sinilah saya mencari penghidupan untuk bisa bertahan menjadi orang seperti saat ini.

Tapi bagaimanapun, saya akui… hubungan saya dengan keluarga terorist bloon itu sekarang menjadi terganggu… dan mudah-mudahan Tuhan memaafkan saya dan keluarga, karena apa yang mereka tuduhkan itu Beliaulah yang tahu…, dan terkhusus apa yang saya sedang lakoni sekarang…Beliaulah juga yang mengetahui… Semoga mereka juga para terorist itu dimaafkan oleh ISWW…

Back to Basic

Sejak diumumkannya hasil PLPG Tahun 2012 Rombel Pertama oleh Undiksha, dimana saya dinyatakan lulus, sejak itu pula saya tak pernah lupa mengucapkan “Astungkara” ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Ternyata perjuangan gigih dan tak pernah menyerah bisa mendatangkan hasil sesuai dengan di harapkan. Peran doa dari keluarga dan kerabat, juga teman-teman mampu membangkitkan rasa optimis dan percaya diri yang sangat tinggi, sehingga perjuangan menuju pencapaian hasil yang optimal dapat diraih.

Pasangan

Jatiluwih-Penebel Juni 2012

Mulai saat-saat dinyatakanya saya lulus Sertifikasi itu pula, saya membiasakan diri untuk menyesuaikan tugas dan kewajiban dinas saya di sekolah ke jalan yang seharusnya saya lakoni. Timbang-timbang, usia dan waktu perjalanan dinas saya sudah semakin panjang, dan menimbang juga porsi daya fikir dan tenaga yang juga sudah semakin menurun, maka saya putuskan bahwa saya harus kembali kepada beban kewajiban yang seharusnya saya laksanakan saja yang bisa saya lakukan.

Kalau dulu, saya banyak mengambil pekerjaan yang seharusnya bukan saya yang mengerjakan, maka sejak dinyatakan lulus sertifikasi tiu saya bekerja dan melaksanakan tugas sesuai dengan Job Lists (SK) yang saya terima. Bisa saya ambilkan beberapa contoh, seperti pekerjaan : membantu teman yang naik pangkat apakah dari CPNS ke PNS, atau dari Golongan III ke IV, membantu teman dalam membereskan komputer sekolah/teman yang bermasalah, menjadi tukang foto untuk sekolah, mengurusi banyak media sekolah dll, sedikit-demi sedikit saya lepas, termasuk menjadi Admin Web Sekolah bahkan banyak pekerjaan administrasi TU yang pernah saya kerjakan, pelan-pelan akan saya lepas juga.

Sebenarnya sih dalam hati yang terdalam terasa agak berat dan menjadi tidak enak melepas semua itu, tapi apa boleh buat. Jujur saya akui, terkadang walapun saya mau melakukan hal-hal yang di luar ketentuan tugas yang ditentukan SK, tapi saya tidak mendapatkan apresiasi yang setimpal secara material dan non-material. Kalau saya kasarkan, upah secara ekonomi terkadang tidak seimbang dengan beratnya pekerjaan apalagi apresisi yang bersifat motivasi semangat untuk selalu bekerja semangat, sangat jauh dari harapan. Atas pertimbangan ini jugalah, saya mulai saat ini mencoba mengembalikan semangat saya sendiri dengan melakukan tugas sesuai dengan Surat Keputusan (SK) yang dikeluarkan oleh Kepala Sekolah maupun oleh atasan yang lain. Toh bagaimanapun juga, ketentuan dan persyaratan sertifikasi hanya berpedoman dari Job List yang termuat dalam SK.

Dengan saya lepaskan sedikit demi sedikit apa yang selama ini saya kerjakan, teman-teman yang junior yang mempunyai semangat besar akan mau mengambil posisi saya dan bisa melakukannya dengan baik seperti apa yang saya lakukan dulu. Dan perlu juga saya jelaskan kepada para pembaca bahwa tulisan ini tidak bermaksud untuk mendeskriditkan siapapun, juga tidak mengeluhkan siapapun, ini hanya sekedar ungkapan hati saya yang terdalam dan sebuah kejujuran yang hanya bisa saya goreskan lewat tulisan.

Pendekatandiriku Kepada_Nya.

Mangku 03Dalam tulisan ini saya coba kembali menuliskan apa-apa yang aku lakukan dan alami selama ini, mulai dari tulisan terakhirku sampai dengan hadirnya tulisan ini. Dalam tulisan-tulisan saya terdahulu, saya sudah banyak mengeluh tentang perjalan profesi saya sebagai seorang guru. Saya juga banyak menyalahkan orang lain, bahkan saya sering mengeluhkan segala perlakuan atasan dan kolega terhadap diri saya. Pada suatu ketika, saya tersentak membaca salah satu tanggapan seseorang atas tulisan-tulisan tersebut, lalu saya sadar bahwa apa yang sudah saya tulis itu ternyata keliru. Pada saat saya membuat semua tulisan itu saya tidak menyadari bahwa hidup memang harus begitu adanya, dan juga karena tanggapan seseorang itu sekarang menyadari kita sebagai mahluk sosial memang harus saling isi mengisi, saling tegur menegur atas kekurangan masing-masing sehingga dengan semua itu hidup akan berjalan harmonis walaupun terkadang terasa menyakitkan. Melalui tulisan ini saya mengucapkan banyak banyak terimakasih pada orang yang telah mengomentari tulisan saya itu, karenanyalah sekarang saya semakin sadar tentang hakekat hidup.

Mangku 02Setelah sekian lama saya tidak menulis, saat ini kembali saya coba bertutur kata dalam bentuk tulisan yang mengungkapkan rasa syukur ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa, karena segala anugrah dan bimbinganNya-lah saya sekarang menjadi manusia yang sadar dan mau semakin mendekatkan diri kepadaNya. Saat ini, kewajiban hidup saya semakin bertambah di samping sebagai seorang Guru, saat ini saya juga berkewajiban untuk melayani keluarga besar di Sanggah Merajan dengan memilih jalan menjadi seorang “Pemangku (pangelingsir)”. Kalau difikir-fikir tugas itu sangatlah berat, ditengah-tengah saya juga harus mengerjakan kewajiban pokok hidup saya yaitu menghidupi kelima anggota keluarga secara fisik dan ekonomi. Namun hal itu tidak mau saya jadikan sebagai suatu beban hidup, bahkan kewajiban tambahan itu saya syukuri sebagai sebuah tanggung jawab yang harus memang saya tanggung.

Mangku 01Sebagai seorang Pemangku dan juga Guru pada dasarnya mempunyai garis tugas pokok yang sama, yaitu melayani. Kalau Guru, harus dan wajib melayani kebutuhan pengetahuan duniawi kepada anak didik, sedangkan sebagai seorang Pemangku, wajib hukumnya melayani kebutuhan rokhani umat pada umumnya dan keluarga khususnya. Walaupun secara kerokhanian, ilmu saya belumlah memenuhi standar yang dituntut, namun bagaimanapun demi Agama Hindu yang saya anut, umat, keluarga dan diri sendiri khususnya, saya mencoba untuk memberanikan diri dan berusaha belajar-dan belajar lagi tentang segala sesuatu yang terkait dengan Ajaran Ketuhanan, dan semoga dengan jalan demikian ilmu apa yang sudah dapat saya kuasai bisa saya sebarkan dan berguna bagi semua, dan juga untuk diri saya sendiri. Di samping itu, alasan mengapa saya menerima tugas sebagai seorang Pangelingsir itu adalah untuk meningkatkan Sradha Bhakti saya kepa Tuhan Yang Maha Esa, dan semoga di kemudian hari saya tidak lagi mengecewakan orang, keluarga dan juga kerabat. Semoga apa yang saya jalani ini bisa mendatangkan kedamaian dan cinta bagi  umat manusia secara keseluruhan.

Pokoknya Aneh Deh!

Akhirnya sampai pada saat tulisan ini saya posting, yang namanya LCD Projector yang saya ceritakan pada tulisan terdahulu belum juga kami temukan. Seperti yang sudah saya tulis juga, saya ingin tegaskan kembali bahwa ada banyak hal dan kejadian di sekolah yang saya rasakan aneh tapi kejadiannya nyata.

Salah satunya LCD itu, begini ceritanya; beberapa waktu yang lalu, saya sering membuat foto-foto untuk dokumen sekolah tapi memang sengaja tidak saya print out. Semua hasil foto sekolah termasuk foto guru, siswa dan kegiatan-kegiatan sekolah yang saya anggap penting saya arsipkan dalam bentuk soft copy di komputer pribadi, dengan alasan tidak ada dana untuk mencetak semua itu (dana yang dikasi sekolah hanya untuk pemkbelian baterai) dan memang sengaja saya simpan di Komputer saya sendiri karena kalo mau disimpan di Komputer sekolah rasanya tidak mungkin. Ada banyak komputer sekolah memang, tapi tidak ada satupun yang brani saya jamin untuk keamanan menyimpan file-file penting. Disamping pemakainya banyak, juga yang berkompeten untuk bertanggungjawab menjaga file dan arsip penting sekolah juga tidak ada. Itulah sebanya mengapa semua file foto dan dokumen penting sekolah saya simpan di Komputer saya sendiri (file yang berhubungan dengan kepentingan pribadi saja), untuk kepentingan sekolah secara umum itu bukan kewenangan saya.

Entah karena apa, saking seringnya mungkin saya membuat foto dukumen sekolah, pada suatu ketika kamera itu diminta oleh sekolah dengan alasan kurang jelas. Yaah… yang namanya kamera itu memang milik sekolah, saya serahkan kepada Kepala Sekolah. Tapi anehnya, selama kamera itu dibawa oleh salah satu oknum, selama itu pula tidak ada kejadian penting yang terekam kamera. Melihat peristiwa itu, saya menjadi prihatin, lalu saya mencoba lagi untuk meminjam kamera itu, nah bukti bukti dari dokumen foto yang saya buat sudah sejak awal saya dokumentasikan di dunia maya seperti FB, WindowsLive dan Flicker juga ada di Picasa Web. Menimbang kejadian ini saya menjadi berfikir, apakah Kepala Sekolah menganggap bahwa kamera itu saya jadikan alat bisnis untuk membuat foto. Entahlah. Belakangan ini juga kejadiannya hampir sama, karena anak-anak mungkin sudah melihat hasil karya saya dengan menggunakan kamera itu, ada beberapa kelas yang meminta saya untuk membuat Denah Kelas, yaah saya buatkan memang, dengan ada “cost”nya, dan mereka setuju dan ikhlas membayar saya sebesar Rp.35.000, dan dana ini hasil urunan mereka sebanyak 25-26 siswa, atau dengan kata lain rata-rata Rp.1500/orang. Apakah itu yang membuat sekolah meminta lagi kameranya karena saya dianggap berbisnis dengan siswa saya. Entalahlah juga. Tapi faktanya pada saat tulisan ini saya posting, kamera itu masih ada di sekolah karena memang diminta oleh salah satu oknum pegawai.

Dalam hati saya terkadang tertawa, berapa sih untung saya dari hasil membuat foto-foto itu. Kalau orang faham dengan pekerjaan seperti itu… dan kalau orang berfikir bisnis, maka pasti orang itu tidak akan mau mengambil pekerjaan seperti yang saya lakukan. Coba bayangkan, sampai saat ini di komputer saya ada kurang lebih 8.000 foto yang terkait dengan sekolah dengan menghabiskan tempat di Komputer sekitar 16 GB (karena memang fotonya dalam resolusi tinggi). Mana capek mengambil fotonya, mana menghabiskan tempat di komputer sendiri…aaaahh secara bisnis rugi total. Tapi bagaimanapun juga, akhirnya saya menjadi berfikir jelek (saya akui ini dosa), bahwa karena ketidak fahaman Bapak Kepala Sekolah dan orang-orangnya ini tentang komputerlah yang menyebabkan hal ini terjadi, jadi kemungkinan mereka menganggap apa yang sudah saya lakukan dengan kamera itu hanya menguntungkan pribadi saya saja. Saya juga berfikir jelek, bahwa oknum-oknum inilah yang sebenarnya mau menggunakan kamera itu tapi mereka tidak bisa melakukan hal yang sama seperti yang apa saya lakukan. Entahlah lagi. Faktanya kamera itu sampai saat ini “nota bene” ada di sekolah, jangan-jangan nasibnya seperti LCD Projector itu,

Kalau cerita kamera ya seperti itu, nah kalau mengenai LCD Projector itu lebih aneh lagi. Awalnya LCD itu memang saya gunakan di Sanggar di Kampung, kan itu juga anak-anak SMP kami, jadi saya merasa tidak apalah saya pakai. Tapi pada suatu ketika, salah satu Guru meminta saya membawanya kesekolah karena akan ada Pemeriksaan barang-baran dari Dinas. Yaaa…yang namanya barang itu bukan milik saya, maka saya kembalikan. Nah entah beberapa harinya lagi, seperti cerita saya terdahulu itu kejadiannya. Dan sampai sekarang LCD Projector itu keberadaanya entah dimana, saya juga tidak tahu. Yang aneh dalam kejadian hilangnya LCD Projector ini adalah, kok Kepala Sekolah dan orang yang mempunyai tanggungjawab terhadap barang ini tenang-tenang saja? Biasanya beliau, jangankan barang yang harganya jutaan, barang yang harganya puluhan ribu pun apalagi hilang, dibawa sama salah satu gurupun kalau terlalu lama, pasti ribut…. Tapi ini secara pribadi saya fikir ganjil, jangan-jangan beliau dan oknum ini sudah tahu keberadaan LCD Projector ini. Dalam setiap kesempatan bercengkramapun beliau tidak pernah menyinggung tentang hilangnya barang ini, cuma dalam rapat rutin bulan Januari 2012 yang lalu saja dibahas, dan itu pun terkesan hanya sepintas lalu. Nah… hal-hal seperti inilah yang sering saya alami di sekolah tercinta ini. Samapai sekarang, kalau saya mau mengajar menggunakan LCD Projector, harus meminta izin dulu sama oknum yang satu ini, karena barangnya ditaruh diruangan terkunci dan satu satunya orang yang membawa kunci hanyalah oknum ini, nah yang celaka kalau oknum ini tidak ada di sekolah…wah wah wah… jadinya pembelajaran menggunakan media menjadi tidak jalan.

Saya menjadi semakin tidak tahu, entah apa maksud Bapak Kepala Sekolah melakukan kebijakan seperti ini, dan entah karena apa beliau hanya memberikan kepercayaan alat-alat yang seharusnya digunakan oleh para guru ini dibawa oleh oknum ini, padahal saya jelaskan lagi oknum ini sama Gaptek_nya dengan Beliau. Dia (oknum) ini, setahu saya tidak mengerti sama sekali tentang alat-alat tekhnologi saya tahu persis itu karena dia sering menanyakan sesuatu kepada saya tentang barang-barang itu. Terakhir, saya berdoa mudah-mudahan Bapak Kepala Sekolah dan oknum yang saya ceritakan ini kenyataanya tidak seperti yang saya ceritakan di atas, dengan kata lain mudah-mudahan mereka benar-benar tidak tahu juga dengan keberadaan LCD Projector itu, dan juga tidak berfikir negatif tentang saya dengan penggunaan kamera sekolah itu. Tulisan ini saya buat hanya sekedar untuk melepaskan unek-unek saya karena saya juga tidak menemukan tempat yang pas untuk membuang semua unek-unek ini kecuali ke dalam bentuk tulisan seperti ini dan saya publkasikan ke umum.

Ini salah siapa?

Hari ini tanggal 9 Januari 2012 pagi, seperti biasa aku menjalankan tugas untuk mengajar di Kelas 8 C pada jam 1-2. Entahlah, seperti biasa juga aku mengajar menggunakan Media LCD Projector. Sedikit aku agak terkejut, karena Projector yang biasa aku pakai itu tidak kutemukan di tempatnya. Agak teledor aku memang, karena tidak menanyakan pada penanggungjawabnya, Nyoman Kariawan atau Pak Pontra, karena dalam fikiran saya mereka pasti tahu tempatnya atau yang memakainya. Saya putuskan untuk mengambil dan memakai LCD yang satunya lagi merek SONY.

Setelah pelajaran jam 1-2 selesai, aku kembali menanyakan keberadaan LCD yang biasa saya pakai itu kepada beberapa temen di ruang Tata Usaha, dan semua menyatakan tidak tahu. Saya menjadi semakin bingung, karena beberapa waktu yang lalu LCD Projector itu sering saya pakai, bahkan beberapa bulan yang lalu saya pakai di Sanggar tempat saya memberikan pelajaran tambahan di Kampung (Galiukir). Saya mencoba mencari dan menanyakan kepada teman-teman yang lain, dan mereka semua mengatakan tidak tahu, semakin bingung lagi saya, karena takutnya teman-teman masih mengira saya yang memakai (membawa) Projector tersebut, padahal sudah saya kembalikan pada tanggal 24 Desember 2011 yang lalu.Hari semakin siang, tibalah giliran saya mengajar di Kelas 8 B, pada jam ke 4 dan 5, dan aku putuskan untuk tidak memakai Projector. Begitu oelajaran di sana usai, saya baru ketemu dengan bagian Sarana yaitu Nyoman Kariawan, dan pas di samping Bapak Kepala Sekolah saya mencoba menanyakan keberadaan Projector tersebut. Semakin terkejut saya karena ia dan beliau tidak tahu juga keberadaan Projector itu. Bagi saya ini menjadi aneh…., dan semakin aneh ketika saya juga tanyakan kepada Pak Pontra, ternyata beliau juga tidak tahu.

Alasan kenapa saya gencar dan ingin tahu sekali tentang keberadaan Projector tersebut, karena takut saya menjadi korban fitnah. Kenapa? Karena, selama ini sayalah yang paling sering memakai alat itu, kemudian sekarang alat itu tidak ada, bagaimana nanti kalau orang yang tidak senang dengan saya menuduh saya bahwa saya lah yang harus bertanggung jawab dengan alat itu? Nah inilah yang membuat saya menjadi ingin tahu yang sebenarnya siapa pemakai atau pembawa Projector itu sekarang?

Ingin saya cerita kebelakang lagi, ada sesuatu yang ganjil terlihat di forum muka Bapak Kepala dan Nyoman Kariawan pada waktu saya menanyakan alat itu kepada mereka. Mudah-mudahan ini hanya kecurigaan saya saja. Semakin saya mendesak mereka, terlihat tingkah laku bapak kepala semakin terlihat ganjil atau tidak seperti biasanya, terkesan beliaunya itu sudah tahu cuma tidak mau mengatakan kepada saya. Itu perasaan saya saja…. mudah-mudahan beliau memang tidak tahu, dan kecurigaan saya tidak mengena.

Juga kembali saya katakan bahwa ini juga keteledoran saya, karena pada saat mengembalikan Projector itu saya tidak menandatangani buku pengembalian barang. Itu tidak saya lakukan dulu karena pada saat saya mau menulis dan menandatangani buku itu, pemegang buku Nyoman Kariawan mengatakan tidak menemukan bukunya itu, dan beliaunya akan berjanji akan memarafnya untuk saya dan menulis bahwa barang itu sudah saya kembalikan setelah menemukannya, dan bahkan ia pada waktu saya menayakan barang itu mengatakan bahwa ia telah mengisi buku pengembalian barang itu untuk saya, dan bahkan sudah memarafnya, tapi ia tidak menunjukkan buku itu ke saya. Ini menjadi aneh dan semakin aneh buat saya. Akhirnya saya putuskan untuk membahasnya keesokkan harinya pada saat rutin tanggal 10 Januari 2012 besok. Nah kalau cerita ini saya tutup, selain ketelecdoran saya, siapa lagi yang harus bertanggungjawab terhadap keberadaan LCD Projector ini?